YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

Teknik Metamorfosis berdasarkan Cognitive Behavior A. Kasandra Putranto

Sepanjang kehidupannya, manusia banyak mengalami kasus yang melibat kankonflik internal dalam diri, konflik di sekolah, konflik sosial dengan lingkungan, konflik di dunia kerja, konflik rumahtangga, dan lain-lain. Umumnya konflik tersebut terjadi karena peranan dari berbagai faktor, namun situasi kerap menjadi semakin rumit dengan adanya kebiasaan manusia menilai situasi, diri, orang lain dan dunia secara negatif. Pola ini membuat konflik menjadi semakin besar karena manusia (tanpa sadar) lebih suka menambah tekanan pada situasi yang dihadapi dari pada mencari alternatif solusi permasalahan. Manusia cenderung lebih tertarik untuk melampiaskan emosi terpendam dari pada berusaha melihat situasi dengan sisi yang berbeda, yang membuatnya kerap luput memperhitungkan konsekwensi akan tindakannya. Manusia menjadi lebih reaktif dari pada bersikap proaktif, merencanakan strategi untuk mencapai hasil yang diharapkan.

 

 

Tekanan demi tekanan dari setiap masalah yang semakin meningkat, dengan kekhasan daya tahan / toleransi manusia terhadap tekanan – sebagai hasil perpaduan dari bakat bawaan dan pola belajar – membentuk kombinasi kepribadian yang juga khas pada diri manusia dan turut berperan dalam menentukan arah akan ”menjadi seperti apa” seorang manusia dalam kehidupannya. Ada yang gagal bertahan dan kemudian mengadopsi gangguan – gangguan fisik dan psikologis tertentu, ada yang mencoba bertahan namun gagal dan membiarkan luka batinkerap mengganggu kehidupan, namun ada yang berhasil bertahan, meningkatkan ketegaran, merubah diri, menjalani kehidupan secara bahagia, bermartabat dan sehat lahir batin.

 

Berbagai problema kehidupan yang terus muncul dalam kehidupan akan semakin terakumulasi karena manusia gagal memahami situasi yang sebenarnya terjadi dan salah mengambil pilihan terhadap kehidupannya.

 

1

Seorang anak laki – laki berusia 12 tahun dengan diagnosa Oppositional Behavior, selalu bermasalah di sekolah, melawan guru, berkelahi dengan teman, melakukan perbuatan yang melanggar peraturan dan norma sosial, terancam di keluarkan dari sekolah karena perbuatannya sudah tidak dapat diterima lagi. Di usia yang relatif sangat muda, ia dihadapkan kepada pilihan untuk mau terus bermasalah atau mau berubah.

 

2

Seorang remaja putri yang terjerat dalam penyalah gunaan narkoba dan hubungan terlarang, penuh kemarahan terhadap keluarga yang dirasakan selalu memusuhinya, putus sekolah, memilih pergi dari rumah, hidup hari demi hari hanya mengikuti jejak narkobanya. Dalam kebingungannya, ia dihadapkan pada tuntutan untuk mengambil keputusan penting dalam hidupnya,  mau terus hidup bersama narkoba atau memilih jalan hidup yang penuh janji kebahagiaan dengan prinsip ’clean and sober’.

 

3

Seorang laki-laki dewasa muda, anak tunggal yang dilahirkan dengan keterbatasan pendengaran, dibesarkan dengan kecenderungan ’overprotective’ dari orangtuanya, namun sebenarnya tabah luar biasa, mengalami dilema untuk menyerah pada kehidupan yang keras, teman - teman yang dirasakan mengucilkan, atau dosen yang seolah – olah tidak berpihak kepadanya. Di akhir masa kuliahnya terancam putus kuliah, karena ia kehilangan semangat untuk terus menjalani kehidupannya. Ia berhadapan dengan pilihan untuk terus berjuang atau berhenti saja dari kehidupan.

 

4

Seorang perempuan dewasa muda, anak tunggal yang dilahirkan dengan kelebihan finansial orang tua mapan, memperoleh kemewahan berupa kesempatan bersekolah di universitas mahal ternama dan memperoleh rumah sendiri, namun memilih untuk mengundang kekasihnya hidup bersama tanpa menikah. Ketika sang kekasih bosan dengan permainan ’rumah - rumahan’ mereka dan memutuskan pergi begitu saja, hancurlah hati sang putri. Maksud hati ingin mempertahankan, namun kenyataan tidak berpihak kepadanya. Walaupun demikian, ia tetap memiliki kesempatan untuk memilih, menjalankan sisa kehidupannya dengan mampu bermartabat atau terus tenggelam dalam lautan kepedihan yang tiada henti.

 

5

Seorang remaja putri dengan diagnosa Bulimia, mengalami riwayat kekerasan domestik di masa kecilnya, memiliki konsep diri yang sangat rendah, merasa dikucilkan dalam pergaulan, merasa hidup sangat tidak adil, dan semakin tenggelam dalam pola gangguan makan yang parah. Ia dihadapkan pada pilihan untuk merubah diri atau menjadi semakin sakit jiwanya.

 

6

Seorang pria dewasa dengan diagnosa Hipokondria, selalu merasa sakit dan merasa selalu memerlukan perawatan medis, tidak pernah puas dengan satu dokter, sulit melepaskan kecemasannya akan kesehatan. Ia berhadapan dengan pilihan untuk merubah diri dan belajar ketrampilan baru, atau tetap mengalami gangguan kejiwaan yang semakin mengganggu kehidupan sehari - harinya, karena segala daya, upaya, waktu dan tenaga hanya terkuras habis untuk memenuhi pikirannya yang terganggu.

 

7

Seorang perempuan paruh baya, mengalami krisis identitas di usia lanjutnya, merasa hidup tidak berarti, bermasalah dengan putri dan suami, memilih untuk menjalani hura – hura kehidupan malam, dengan alasan untuk mennyenangkan hati. Pada akhirnya ia pun harus berhadapan dengan pilihan, mau terus dugem setiap pagi atau mengejar konsep diri yang lebih berarti.

 

8

Sepasang suami istri, memiliki masalah yang sangat pelik dalam perkawinan,  masing – masing memiliki alasan yang kuat untuk alternatif perceraian. Amarah dan dendam sudah semakin memuncak,  membuat masing – masing saling menyakiti. Mereka dihadapkan pada pilihan, untuk mempertahankan perkawinan atau berpisah saja, walaupun dengan resiko anak – anak menjadi korbannya.

 

9

Seorang perempuan yang telah menikah  2 kali, dikhianati 2 kali dan nyaris tenggelam dalam danau kepedihan yang diciptakannya sendiri, mengalami depresi dan mencoba bunuh diri karena menilai hidup tidak berharga. Sekarang hidupnya jauh lebih baik, mampu merasa bahagia, aktif menikmati kehidupan, mampu bersikap optimis terhadap masa depan dengan selalu berpikiran positif.

 

10

Seorang perempuan yang terjerat penyalah gunaan obat terlarang sejakusia 14 tahun, mampu merekonstruksi kembali serpihan hidupnya perlahan - lahan, bangun dari keterpurukannya, melanjutkan sekolah, bekerja, menikah, melahirkan anak dan hidup bahagia.

 

11

Seorang istri yang terjebak oleh pikiran – pikiran idealnya, memiliki kesulitan dalam mengendalikan temperamennya, terus melakukan perbuatan otomatis yang tidak bias di terima oleh suaminya, semula juga sulit memahami mengapa hanya dirinya yang harus menjalani program terapi dan mengapa hanya dirinya yang dianggap sebagai pemicu konflik yang nyaris berujung pada perceraian.  Pada akhirnya ia dapat mengerti bahwa prinsip BISA dan MAU, merupakan alas an utama mengapa dirinyalah yang dipilihuntuk menjalani terapi.

 

12

Seorang remaja putri yang mengalami insomnia, sulit melepaskan kebiasaan merokok, juga terindikasi memiliki Oppositional Behaviour (kecenderungan melawan), pada akhirnya bisa menuntun dirinya sendiri untuk tidur nyenyak dengan bantuan Auto Hypnotherapy, melepaskan ketergantungan nicotine-nya, mampu menyesuaikan diri dengan norma sosial yang berlaku.

 

13

Seorang ibu rumah tangga dengan kepribadian yang keras dan cenderung perfesionis dan otoriter, mengalami konflik keluarga, putra bungsunya mengalami Drug Dependency, suaminya mengalami Depresi, Tuhan seolah tidak adil kepadanya, nyaris mematahkan semangat hidupnya. Namun ia mau melakukan perubahan terhadap diri sendiri, yang memberikan pengaruh kepada anak dan suaminya untuk ikut berubah bersamanya.

 

14

Seorang remaja putri yang nyaris melakukan SUICIDE, karena hubungan terlarangnya dengan pria beristri membuatnya hamil, terpaksa menggugurkan kandungan, kehilangan rahim yang infeksi, merasa hidup dan masa depan sudah lenyap sama sekali. Ternyata ia mampu membangkitkan semangat hidup dan melanjutkan kehidupan lagi, akhirnya bertemu dengan jodohnya yang mau menerimanya apa adanya.

 

15 Seorang perempuan dewasa muda, dengan figur ibu yang keras, dibesarkan dengan penuh tekanan dan drama perceraian keluarga, mengalami kondisi psikosomatis berat yang semakin memberikan tekanan pada tulang punggungnya. Di akhir masa kuliahnya terancam putus kuliah, karena kehilangan semangat untuk terus menjalani kehidupannya. Ia berhadapan dengan pilihan untuk terus berjuang atau tidak peduli pada kehidupannya.