YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

1304 MARKETING, No. 04/XIII/April 2013

JANGAN EKSPLOITATIF

 

Eksistensi keberadaan sebuah brand kian memainkan peranan penting. Perusahaan pun dituntut untuk kreatif dalam membangun brand di tengah kondisi yang semakin sulit. Tak terkecuali para produsen yang membidik segmen anak maupun remaja. Meski begitu, pada dasarnya pasar anak merupakan market potensial karena secara tidak langsung berkaitan dengan perubahan perilaku yang terjadi di lingkungan anak tersebut.

 

Anak-anak berpotensi menjadi primary market karena beberapa factor. Missal, perubahan nilai uang saku yang diterima anak dari orangtua makin meningkat. Tak hanya itu dewasa ini, anak pun sudah memiliki kebebasan dalam memutuskan brand yang memang menjadi pilihan – baik atas dasar keinginan sendiri maupun pengaruh dari lingkungan. Selain primary market, anak-anak pun bias menjadi secondary market. Artinya, kebutuhan mereka masih sangat dipengaruhi oleh orangtua.

 

Sayangnya, tak banyak produsen yang menyadari bahwa anak-anak pun bias menjadi market yang potensial. Tidak hanya untuk masa kini, tapi juga dimasa mendatang. Anak-anak mampu menjaga loyalitas keberadaan sebuah brand hingga dapat ditularkan ke generasi berikutnya. Psikolog Kasandra Putranto memiliki pandangan menarik terkait produsen yang membidik segmen anak maupun remaja sebagai target penjualan.

 

Dalam pengamatan saya, di Indonesia sangat banyak produk yang memang menyasar segmen anak dan remaja. Mulai dari susu, makanan, minuman, hingga music. Sayangnya, keberadaan yayasan lembaga konsumen masih lemah dalam hal ini. Artinya, para produsen bias menjual apa saja di Indonesia tanpa memperhatikan konsumen itu sendiri, ujar Kasandra.

 

Missal, dalam teknik marketing yang digunakan produsen begitu berlebihan. Untuk itu alangkah lebih baik jika dalam memasarkan produk, produsen juga menyampaikan data sebagai bukti bahwa produk tersebut memang cocok untuk anak-anak maupun remaja. Justru yang terjadi sekarang ini adalah adanya manipulasi persepsi masyarakat terhadap produk apapun. Selain dikarenakan teknik marketing yang berlebihan, beberapa etika pun kerap dilanggar oleh produsen.

 

Tentu strategi marketing yang berlebih tersebut secara langsung maupun tidak mempengaruhi keputusan anak-anak dalam member produk tertentu. Anak pun semakin terpikat jika produk tersebut menggunakan endorser yang menjadi idola mereka. Tambah antusias lagi jika teman sebaya maupun lingkungan pun membentuk kondisi demikian. Artinya, anak sudah bias mengerti daya tarik yang ditawarkan oleh produk dan tak sungkan untuk lanjut pada tahap pembelian produk.

 

Factor lain yang mempengaruhi anak membeli produk tertentu adalah adanya kesempatan dalam menyampaikan pendapat. Ini kontras sekali dengan kondisi masa lalu, saat anak tidak bisa menyuarakan keinginan terhadap perubahan perilaku anak.

 

Kasandra pun menambahkan, untuk itu orangtua masih menjadi tokoh sentral dalam pengambilan keputusan. Dalam hal ini orangtua dituntut untuk menyaring produk-produk yang cocok untuk anak. Cara yang dapat dilakukan adalah mengetahui detail yang ditawarkan oleh produk, bisa dari kandungan yang tertera pada kemasan hingga manfaat yang didapat.

 

Jika orangtua, khususnya ibu, tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk mengambil keputusan terhadap sebuah produk, maka anak akan mudah terjebak. Semakin parah lagi jika lingkungan social anak mendukung hal tersebut. Tak heran jika sekarang atau nanti banyak anak yang mempengaruhi orangtua dalam memilih produk.

 

Masalah yang patut menjadi perhatian adalah kesadaran para produsen untuk memaparkan secara rinci dan terbuka kandungan yang ada dalam produk. Tentunya, kandungan tersebut pun harus dijabarkan lagi secara spesifik mengenai, kegunaan, manfaat, serta baik-tidaknya dalam satu situasi tertentu. Jika ini sudah dilakukan oleh produsen, pasti konsumen pun akan memberikan apresiasi terhadap produk tersebut karena memang mampu dipresentasikan dengan gamblang.

 

Saya meyakini bahwa pada dasarnya setiap produsen memiliki tanggung jawab moral kepada masyarakat. Tak terkecuali anak-anak yang kelak menjadi generasi masa depan Indonesia. Untuk itu, para produsen harus bisa memerhatikan etika dalam membuat strategi marketing agar proposional. Dengan demikian, diharapkan produk-produk yang kurang baik pun akan hilang dengan sendirinya karena konsumen yang akan menyaring, tegas Kasandra.