YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

1304 Mom & Kiddie April 2013

 

Tanya :

Swaktu saya (33) hamil anak kedua, suami sempat selingkuh. Saya baru tahu setelah anak kedua kami berusia 6 bulan. Walau suami menyesal dan berjanji tak akan mengulanginya serta mengaku telah mengakhiri hubungan itu begitu anak kedua kami lahir, saya terlanjur sakit hati dan jadi susah percaya. Belakangan ia sering pulang larut malam, katanya lembur. Kendati ia selalu menjelaskan bahwa ia berkata jujur, saya tak percaya dan menuduh ia menemui kekasih lamanya. Bagaima menghilangkan krisis kepercayaan ini?

 

Jawaban :

dalam kehidupan, manusia sering terjebak dalam pola pikir salah yang membuat mereka menampilakan sikap reaktif daripada proaktif. misalnya, suami pernah berselingkuh (aksi) kemudian mengundang sikap dan perilaku tidak percaya dari istri (reaksi). umumnya proses rasionalisasi menjadi sangat mudah ditegakkan sehingga reaksi tersebut dipandang wajar dilakukan terhadap aksi yang pernah terjadi. Dengan demikian manusia cenderung bertindak berdasarkan masa lalu dalam menghadapi situasi masa kininya.

 

MASA DEPAN, BUKAN MASA LALU

Namun ada sebagian manusia yang mau dan mampu memiliki cara pandang yang berbeda bahwa hidup adalah untuk masa depan, bukan masa lalu. Pada kasus diatas, sang suami pernah selingkuh sehingga ibu menampilkan sikap tidak percaya. Pertanyaannya adalah apakah ibu ingin hidup untuk masa lalu atau masa depan?

mari melakukan eksperimen kecil dalam bayangan kita untuk menentukan sikap terhadap kasus ini. Pertama, ketika Ibu terjebak dengan pola reaksi, Ibu akan menampilkan rasa tidak percaya kepada suami. Selanjutnya coba bayangkan apa yang akan suami Anda rasakan dengan sikap tersebut. Umumnya para suami akan merasa tidak nyaman, kesal, lama-lama akan meyakini bahwa segala upayanya tidak dihargai, dan akhirnya sampai pada kesimpulan: sudah dapek-capek membuktikan masih juga dicurigai, mending berselingkuh saja sekalian.

 

MEMBERIKAN KEPERCAYAAN

Sementara jika Ibu menampilkan rekasi berbeda, yaitu memberikan kepercayaan, reaksi dari suami akan merasa nyaman, merasa dihargai dan akan mengembangkan pikiran: betapa baiknya istriku, saya tidak akan merusak kepercayaannya lagi. meski begitu, ada pula kemungkinan ketiga, yakni Ibu sudah memilih percaya tetapi suami malah berpikiran beda, misalnya, "Wah, enak ya, kalau begitu saya berselingkuh saja lagi toh istri sudah bisa memafkan." Pada kemungkinan kasus ketiga ini, dikembalikan pada karakter individu yang bersangkutan. Berarti, suami jelas tidak lulus ujian kehidupan dimana Ia melakukan kesalahan lagi yang pasti akan memberikan dampak negatif bagi diri maupun lingkungannya di kemudian hari. Dan ini adalah suatu hal diluar kemmpuan dan rencana sang istri. Sementara ujian bagi istri adalah kemampuan untuk menerima cobaan kehidupan. Dalam hal ini, Mampukah Ia untuk tetap menampilkan sikap positif baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, apapun yang terjadi?

Jika istri mampu menampilkan sikap proaktif yang lebih positif, berarti ia memilih hidup untuk masa depan dan melupakan masa lalu. Dan sikap yang dipilih itu pastinya akan lebih menjamin ketengan jiwa dan kesehatan psikologisnya.

 

AGAR KRISIS KEPERCAYAAN HILANG.

Masa lalu tidak mungkin kembali dan diperbaiki, namun dengan teknik perubahan pola berpikir (psikoterapi cognitive behavior), Ibu bisa mengubah caraberpikir Ibu tentang masa lalu demi memperoleh cara berpikir yang berbeda di masa kini. Pikirkan dan tampilkan hal-hal baik (positif) demi memperoleh perasaan yang lebih nyaman dan pada akhirnya reaksi yang lebih positif.