YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

130311-17 Nova (Bukan Hanya Urusan Harta)

Tabloid NOVA Edisi 1307/XXVI, 11 – 17 Maret 2013

 


PRENUPTIAL AGREEMENT

Bukan hanya Urusan Harta

 


Perjanjian pranikah kadang dinilai sebagai bentuk keraguan kepada pasangan dimasa depan. Padahal, tujuan utamanya adalah memberikan perlindungan.

Belakangan ini isu prenuptial (prenup) agreement atau perjanjian pranikah tengah menjadi topic hangat diperbincangkan.

 

Apa itu Prenup?


Memang tak sedikit pasangan yang menilai perjanjian pranikah sebagai sesuatu yang sensitive sehingga banyak yang enggan melakukannya. Menurut A. Kasandra Putranto, psikolog, prenuptial agreement adalah perjanjian yang dilakukan menjelang pernikahan. Isinya berbagai kesepakatan atau janji yang akan dilakukan selama menjalani biduk rumah tangga.

Prenup tak sebatas membahas harta gono-gini saat terpisah. Pasalnya, isi kesepakatan tersebut mutlak dipengaruhi kebutuhan pasangan. Sebagai contoh, prenup bias juga membahas mengenai kesepakatan untuk tidak mendua dan diduakan, tidak melakukan KDRT, atau siapa yang mengelola keuangan. Untuk pasangan yang berbeda agama, perjanjian ini juga bias diisi dengan agama apa yang diberikan pada buah hati kelak. Seiring perkembangan waktu, ikrar tersebut diperkokoh kekuatan hokum. Kasandra menyarankan setiap pasangan yang akan menikah harus membaca dan mengetahui Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.

Bentuk perjanjian pranikah pun beragam dan tentunya harus ditetapkan sekaligus disepakati oleh kedua pasangan. “Perjanjian informal bias dilakukan bersama suami saja atau melibatkan tokoh agama untuk menetapkan bahwa janji itu sah. Akan tetapi, jika ingin kesepakatan dalam bentuk lebih formal, “bias diberi materai dan mengajukan kepada notaries untuk dapat kekuatan hokum”.

 

Apa keuntungan Prenup?


Kekuatan isi prenuptial agreement di tentukan oleh kedua belah pihak. “Apabila ada yang melanggar, apakah akan cerai atau berakhir sebagai teguran saja? Itu juga diserahkan kepada keduanya. Prenup akan membuat kedua belah pihak lebih berhati-hati dalam bertindak dan menjaga diri untuk memegang teguh apa yang telah disepakati sebelumnya. Alhasil, bahtera rumah tangga pun memiliki ketentuan yang jelas. Begitu pula ketika hal terburuk seperti perceraian harus terjadi. Meski demikian, bukan berarti segala hal akecil harus dituangkan di dalam perjanjian, langkah ini justru akan memuat gerak langkah terbatas. Intinya buatlah perjanjian yang didasari akal sehat dan kepala dingin.

 

Bagaimana bila terlambat?


Tak perlu kuatir, Anda tetap bias membuatnya sekarang. Hanya harus diingat bahwa hambatan psikologis bisa saja terjadi. Misalnya, bisa saja pasangan kaget atau tersinggung. Oleh karena itu, tak dapat dipungkiri persepsi mengenai perjanjian pranikah masih terbilang negative. Tak sedikit yang menganggap perjanjian ini kasar karena salah satu pihak dianggap tak percaya kepada pasangan, tidak lazim, atau menyimpang karena mempersiapkan diri untuk perpisahan.

Padahal pada akhirnya yang terpenting bukan masalah Anda dan pasangan memilikinya atau tidak, melainkan bagaimana caranya Anda membuat perjanjian itu. Bagaimana meyakinkan pasangan bahwa bahwa itikadnya baik.

Maka sebelum mengajak melakukan prenuptial agreement, disarankan untuk mengetahui dahuluderajat kepentingannya untuk Anda dan pasangan. Kemudian cari tahu apakah pasangan Anda termasuk sensitive? Pengaturan uang kan selalu sensitive, jika sifat pasangan memang demikian tunda dulu ajakan Andaa dan gunakan cara yang lebih halus dengan menunggu waktu serta suasana yang tepat. Lagi pula bila Anda dan pasangan tak memiliki perjanjian pranikah dan kemudian terjadi hal yang tidak di inginkan, Anda bisa mengandalkan atau memepelajari hokum yang telah ada, baik secara Negara atau agama.

 

Jangan picu perdebatan


Membuat prenup pada dasarnya tergantung pada kondisi dan kebutuhan pasangan tersebut. Perjanjian ini boleh dilakukan, tapi tidak juga tidak apa-apa. Toh perjanjian ini bukan semata punya atau tidak punya, karena setiap pasangan memiliki psikodinamika yang berbeda. Akan tetapi, jangan sampai Anda berkeinginan membuat perjanjian hanya karena rekan-rekan Anda pun meilikinya. Selama Anda dan pasangan merasa tak perlu membuat perjanjian secara formal hingga mengikutsertakan notaries, maka hitungannyanya pun sah-sah saja.

Jangan sampai upaya mengajak pasangan membuat preneptual agreement malah membuat hubungan retak., intinya saling menghargai.. toh tidak semuanya bisa diikat secara hukum karena yang paling berperan justru kekuatan moral didalamnya. Bagaimana pasangan Anda memiliki kesadaran dan kesepakatan untuk menjaga komitmen, itu malah lebih dari sekedar selembar kertas yang diberi materai dan kekuatan hukum, ujar Kasandra.