YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

KOMPAS, RABU, 3 JULI 2013

TERJADI KEMEROSOTAN MORAL YANG TERGOLONG EKSTREM


Saat ini telah terjadi kemerosotan moral yang ekstrem di kalangan remaja di Indonesia, khususnya remaja ibu kota Jakarta. Peran orangtua, masyarakat, dan pemerintah melalui berbagai lembaga pemerintah sangat dibutuhkan terutama untuk menanamkan nilai-nalai moral yang baik sejak usia dini.


Psikolog klinis dan forensik Kasandra Putranto, dalam talk show Jakarta Moral Movement 2013 bertema “You and A Good Taste of Moral”, Selasa (2/7) di Jakarta mengatakan, kemerosotan moral yang ekstrem di kalangan remaja ditandai dengan maraknya tindak kekerasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain atau pembunuhan oleh remaja.


Beberapa kasus pembunuhan yang terjadi di Jakarta, ujar Kasandra, dilakukan remaja berusia 15 tahun dan 16 tahun.


“Yang lebih mengejutkan, baru-baru ini, pembunuhan dilakukan oleh seorang anak berusia 8 tahun. Ini sangat mengerikan sekaligus menyedihkan,” papar Kasandra. Kasus yang dimaksud adalah pembunuhan oleh seorang bocah berusia 8 tahun terhadap bocah 6 tahun di Bekasi pada April 2013.


Perilaku tersebut, ujar Kasandra, sangat berbeda dengan kondisi 40 tahun lalu ketika tindak kekerasan, termasuk yang berupa pembunuhan, “hanya” dilakukan oleh orang dewasa.


Dalam skala yang lebih ringan, lanjut Kasandra, kemerosotan moral remaja ditandai dengan semakin menipisnya sopan santun, rasa hormat kepada orang yang lebih tua, serta penghargaan kepada sesama.


Runner-up 1 Puteri Indonesia 2013, Marisa Sartika Maladewi, yang juga menjadi pembicara mengatakan, merosotnya moral remaja saat ini banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknnologi dan media massa yang pesat. “Dari sana remaja melihat dan mendengar hal-hal buruk sehingga remaja yang tidak memiliki bekal cukup mudah sekali ikut-ikutan,” katanya.


Duta Muda ASEAN-Indonesia Mario Masaya mengatakan, untuk menhadapi kondisi dan tuntutan zaman yang keras, dibutuhkan moral yang kuat agar tidak mudah terseret arus. “Kita boleh saja jadi orang hebat, tetapi tanpa moral yang baik dan hati nurani, untuk apa,” ujarnya.