YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

130904-08 FORUM

1. Dalam kasus penganiayaan atau pembunuhan atas nama cinta, bagaimana biasanya perilaku si pelaku? Apakah tindakan spontan akibat emosi sesaat bisa memicu kekerasan yang sadis, termasuk menusuk berulang kali atau memutilasi tubuh korban?

Tergantung psikodinamika kasus dan psikodinamika kepribadian pelaku-korban. Setiap kasus menjadi sangat khas dan sarat unsur psikologisnya dan tentu saja menjadi berbeda2 kecuali pada kasus serial killer. Untuk kasus mutilasi, tidak semua kasus mutilasi mengandung alasan cinta sebagai penjelasan kekerasannya, sebagian karena alasan penghilangan jejak, sebagian lain karena kecemasan akan kehilangan atau karena dendam.

2. Benarkah hanya seorang psikopat yang punya sejarah kelainan jiwa yang bisa melakukan tindakan sadis atas nama cinta? bagaimana kondisi kejiwaan dan perilaku sehari-hari mereka yang mengisyaratkan kondisi psikopatik tersebut?

Tidak. Kondisi jiwa dan perilaku mereka tidak selalu harus dikaitkan dengan indikasi sebuah kelainan jiwa. Sebaliknya setiap orang pasti memiliki kondisi psikologis yang khas yang memang menjadi latar belakang atau alasan mereka menampilkan perilaku tertentu.

3.Kelainan jiwa sering dijadikan alasan oleh pelaku atau pengacaranya untuk menggambarkan penyebab kejahatan sadis itu. Namun itu biasanya dilakukan untuk meringankan tuntutan saja. Bagaimana pendapat anda tentang alibi kelainan jiwa itu? Apakah alibi itu bukannya justru pembenaran bahwa pelaku harus dihukum dan dijauhkan dari kehidupan masyarakat awam?

Ada kesalahan praktek dan persepsi dalam hal ini. Persepsi bahwa alasan kelainan jiwa dapat dijadikan alasan untuk meringankan tuntutan atau bahkan membebaskan. Apalagi sering digunakan alasan gila sehingga tidak dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya. Praktek bahwa pengacara mencari celah dan memanfaatkan kondisi jiwa untuk meringankan atau membebaskan tersangka.

Padahal :
A. Indonesia tidak memiliki dasar hukum bahwa orang dengan kelainan jiwa bebas demi hukum
B. Kriteria kelainan jiwa / penyimpangan psikologis sangat beragam meliputi kriteria psikotik, neurotik dan gangguan emosional yang berada pada derajat ringan sedang dan berat. (Mohon dicari penjelasan saya di kasus Ryan Jombang yang digunakan untuk menolak bandingnya di PT). Maka tidak serta merta seseorang dengan penyimpangan psikologis apapun langsung berhak mendapatkan keringanan hukum

4. Apakah seorang manusia normal, yang jarang marah-marah secara ekspresif atau bahkan cenderung pendiam (penyendiri), bisa nmenjadi pembunuh atau penganiaya yang sadis gara-gara cinta? Kondisi separah apa yang bisa memicu amukan itu?

Bisa saja. Banyak kasus terjadi demikian, tergantung penjelasan kondisi psikologisnya. Tidak selalu pelaku pembunuhan adalah seorang individu yang memang memiliki temperamen tinggi. Berdasarkan data penelitian di Lapas (cari sendiri sumbernya ya) cukup banyak pelaku pembunuh atau penganiaya sadis justru adalah individu yang pendiam dan penyendiri. Kondisi separah apa yang bisa memicu amukan, tidak sama pada setiap orang. Karena hal ini bersifat relatif.

5. Apakah konsumsi alkohol atau narkotika dapat memicu kelakuan sadis dengan alasan demi cinta? Bukankah ketika mabuk, orang justru tidak bisa merencanakan tindakannya secara terstruktur? Bagaimana dia bisa mengatur cara-cara menyembunyikan korban, senjata atau menyusun alibi?

Tergantung kasus dan zatnya. Apakah zat dapat memicu, ya. Itupun tergantung jenis zatnya apakah ada halusinasi atau tidak, apakah ada peningkatan emosi dst.
Tidak semua pembunuhan adalah pembunuhan berencana. Sebagian besar justru adalah pembunuhan spontan yang baru dipikirkan setelahnya bagaimana menghilangkan bukti.

6. Mengapa makin banyak pelaku pembunuhan, termasuk remaja dan orang dewasa,cenderung melakukan mutilasi pada korban kejahatannya? Apa yang salah dalam pikiran mereka?

Nah, dengan alasan itu pula Ikatan Psikologi Klinis Jakarta memiliki inisiatif untuk merintis psikologi jakarta sehat (www.psikologijakartasehat.web.id)
Karena kondisi mental masyarakat memang menjadi semakin tidak sehat. Tidak perlu sampai tingkat kelainan jiwa yang berat. Peran keluarga dalam memastikan proses tumbuh kembang anak yang sehat fisik, mental dan sosial, menyiapkan mereka untuk memiliki kompetensi moral, emosional, pikiran dan perilaku yang sehat. Demikian pula dengan lingkungan masyarakat yang sehat (termasuk sekolah dan komunitas). Terakhir peran media dalam memberikan informasi, edukasi dan sosialisasi yang rawan terhadap tindak kekerasan dan menjadi model atau inspirasi masyarakat.

7. Dalam banyak kasus pembunuhan sadis, pelaku sering mengaku hanya meniru apa yang pernah dilakukan penjahat lain, apakah alibi ini bisa dibenarkan? Sejauh mana peran media massa mendorong para peniru (copycat) akibat pemberitaan yang terlalu terperinci? bagaimana mestinya berita kasus pembunuhan sadis disajikan kepada masyarakat?

Itu namanya Copy Cat, ada indikasi kondisi psikologis yang khas menjadi latar belakangnya. Tentu tidak dapat dibenarkan. Peran media SANGAT besar. Sebaiknya penyajian kasus pembunuhan dikonsultasikan dulu kepada ahli psikologi sebelum tayang, baik dari sisi waktu, cara penayangan, konten, narasi, visualisasi dan seterusnya.

8. Apakah pembunuhan/penganiayaan sadis atas nama cinta lebih mungkin terjadi pada pasangan sesama jenis? Mengapa? Apa bedanya dengan kondisi pasangan heteroseksual?

Tidak. Kemungkinan sama saja pada homo atau hetero. Walaupun memang pada homoseksual diyakini berperan unsur kecemasan akan persaingan dan agresivitas yang lebih tinggi dibandingkan pada heteroseksual

9. Apakah kepentingan ekonomi, seperti utang piutang atau pelaku terbiasa bergantung pada pemberian dari korban, juga bisa menjadi motif pembunuhan sadis atas nama cinta? Mengapa?

Bisa. Karena dilandasi ketakutan akan ancaman kehilangan materi
Atau sumber penghasilan.

10. Hukuman fisik yang dijatuhkan kepada pelaku pembunuhan sadis atas nama cinta dinilai terlalu ringan, sehingga membuat orang lain terpikat untuk menirunya. bagaimana pendapat anda? Apakah terapi kejiwaan bisa menjadi alternatif hukuman? Adakah hukuman lain yang lebih tepat?

Siapa bilang hukuman pembunuhan sadis atas nama cinta terlalu ringan ? Hukum kita tidak membedakan alasan dan motif. Intinya adalah Menghilangkan nyawa orang lain. Bahwa pada kasus tertentu, bisa jadi ada unsur pembelaan diri atau latar belakang yang dapat meringankan adalah soal lain. Terapi kejiwaan tidak bisa menjadi alternatif hukuman karena belum ada dasar hukumnya di Indonesia dan masih belum tersedia fasilitasnya. Hukuman lain yang lebih tepat, masih harus melalui serangkaian uji coba dan pembuktian. Indonesia hanya mengenal hukuman pidana kurungan dan sanksi, sementara negara lain menerapkan sanksi pelayanan sosial kepada masyarakat dan lain2.