YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

130819-25 Nova

SI KAKAK PERGI MENGINAP

by Katarina Ira Puspita, M.Psi., Psi

Jangan Panik saat Si Sulung dapat undangan menginap. Cari tahu detail acara dan biarkan Ia mendapatkan pengalaman baru dalam hidupnya

 

"Bunda, aku boleh menginap di rumah Tifa, ya!" pinta Tazkia (10), putri sulung Rinda untuk kesekian kalinya. Rinda memang belum memberi jawaban karena masih bimbang. "kenapa, sih, acara ulang tahun anak saja harus menginap?" batin Rinda. Tapi Rinda juga tak tega melarang Tazkia karena semua teman dekatnya ikut menginap.

 

saat buah hati beranjak besar dan memiliki teman serta nyaman dengan lingkungannya, orangtua seringkali khawatir. Apalagi Si Kecil kini mulai meminta izin untuk menginap. Jika sebelumnya Si kecil selalu terkontrol, kini Ia bisa seharian bersama teman-temannya dan jauh dari pengamatan Anda.

 

Katarina Ira Puspita, M.Psi., Psi, psikolog anak dan remaja dari PT Kasandra Persona Prawacana, menerangkan bahwa usia sekolah adalah saatnya kegiatan sosialisasi dengan lingkungan berkembang pesat. "Anak akan membutuhkan sosialisasi dan mereka umumnya takut menjadi berbeda dan takut dikucilkan lingkungan, " urai Katarina.

Maka, jika Si Kecil tak diizinkan menginap bersama teman-temanya, ia kemungkinan akan merasa minder dan terasing. "Pasti ada saat Ia merasa tidak nyambung ketika mengobrol. Bisa saja, keesokan harinya di sekolah, teman-temannya membahas kegiatan-kegiatan saat sleepover (menginap, Red.)" tambah Katarina.

 

SISI MANDIRI

 

Kesiapan anak untuk menginap di rumah temannya ditentukan kemandiriannya. "Apakah anak sudah bisa mengurus dirinya? mulai dari mandi sendiri, tak takut pergi ke kamar mandi, bisa merapikan bajunya, dll. Kemampuan ini tak bisa di takar dari usia, tapi benar-benar dari kematangan anak," urainya. Pasalnya jika anak belum pernah "dilepas" dan masih sangat bergantung kepada orangtua, ia bisa saja merasa tak nyaman dan ingin segera pulang di tengah-tengah acara menginap. "Ada juga, kan, anak yang terbiasa tidur setelah di peluk, dicium ibunya, atau memang masih selalu tidur dengan ibunya. Jika demikian, lebih baik dibiasakan 'dilepas' terlebih dahulu sebelum Ia menginap bersama temannya, " tambah Katarina. Salah satu cara mengetahui kesiapan anak adalah ketika Anda meninggalkan rumah untuk tugas keluar kota, misalnya. Apakah Si Kecil terlihat murung dirumah? Apakah Ia menangis dan selalu meminta ikut saat Anda bepergian? intinya, anak siap menginap di rumah temannya jika Ia tak keberatan atau bereaksi negatif saat ditinggal oorangtuanya.

 

KENALI TUAN RUMAH

 

Sebelum mengizinkan anak menginap, sudah sewajarnya Anda menanyakan seputar kegiatan menginap ini. Dalam rangka apa, sih, anak harus menginap? Dimana Ia akan menginap dan bersama siapa saja? Adakah orang dewasa yang mendampingi buah hati beserta teman-temannya? Orangtua harus tahu persis poin-poin tersebut dan lebih baik jika ada orang dewasa," terang psikolog sekaligus dosen di jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora; Universitas Bina Nusantara ini. Misalnya, orangtua yang rumahnya dijadikan tempat menginap. Akan lebih baik jika Anda sudah kenal orang dewasa ini, sehingga Anda bisa menelepon untuk mengecek kegiatan tersebut sekaligus menitipkan buah hati. Sampaikan pula kebiasaan Si Kecil yang tak biasa. Setelah itu orangtua boleh mengontrol, tapi sesekali saja. jangan terlalu sering karena akan mengganggu. Lagi pula kita sudah menitipkan anak kepada tuan rumah. Jangan sampai orangtua teman Si Kecil justru tersinggung karena menganggap Anda tak mempercayainya. Sementara itu, buah hati pun harus diberitahu kebiasaan setiap keluarga akan berbeda-beda. "Sehingga anak harus beradaptasi dan mengikuti peraturan yang berlaku di rumah temannya. Ia juga harus terus diingatkan untuk sopan dan merepotkan.

 

DIPENGARUHI KEKHAWATIRAN

 

Orangtua berpikir berkali-kali sebelum melepas anaknya pergi menginap karena beberapa kekhawatiran. Pertama, khawatir anak tak mandiri dan kebutuhannya tak terpenuhi. Kedua adalahah perangai teman-teman sekolahnya tak sesuai dan akan mempengaruhi buah hati. "Ini termasuk lingkungan rumah yang akan dijadikan tempat menginap. Takutnya, banyak kebiasaan keluarga yang tak sesuai dan anak jadi ikut-ikutan atau membandingkan." Ketiga, jika buah hati beranjak dewasa atau usia SMP dan SMA, orangtua khawatir karena buah hati sedang berada di masa-masa pubertas. Tiga kekhawatiran ini sebenarnya bisa diatasi dengan mengkomunikasikannya dengan tuan rumah.

 

Sementara kekhawatiran yang terakhir adalah Si Kecil merasa tak nyaman dengan rumahnya sampai-sampai Ia meminta izin menginap. hal ini tidak bisa disamaratakan, "tergantung berapa hari menginapnya. Sehari saja cukup, kan, untuk sosialisasi? Jika anak terus menginap berkali-kali dalam waktu lama, baru bisa diselidiki apa benar ia tak nyaman berada dirumah?" pangkas Katarina.

 

SAAT MENJADI TUAN RUMAH

 

Di kesempatan lain, mungkin saja Si Sulung yang ingin mengajak teman-temanya menginap dirumah. Sebelum acara menginap dimulai, pastikan Anda sudah melakukan enam tahap yang dianjurkan berikut ini :

 

1. Pastikan setiap anak yang datang sudah mengantongi izin dari orangtuanya masing-masing. Lebih baik jika Anda meminta nomor telepon orangtua teman-teman Si Kecil yang datang. Kemudian, hubungi masing-masing orangtua.


2. Tanyakan kepada anak yang bersangkutan, apakah Ia memiliki alergi tertentu atau penyakit yang mudah kambuh? Jika ya, tanyakan kepada orangtuanya, bagaiman mencegah dan mengatasi sakit tersebut.


3. Sediakan makanan dan cemilan secukupnya, juga tempat yang sesuai. Lalu, pastikan kamar Si Kecil sudah cukup besar untuk menampung jumlah anak yang hadir.


4. Perhatikan karakter buah hati. Jika Ia mudah berselisih dengan anak lain, sebaiknya ajak 1 - 2 anak saja yang menginap. Tapi, jika Ia dapat mengkontrol emosi, boleh-boleh saja Si Kecil mengajak 4 - 5 temannya untuk menginap.


5. Pastikan pemilihan hari juga strategis. Dalam artian, hari Sabtu adalah pilihan terbaik karena keesokan hari anak-anak libur. Praktis, malamnya tak perlu mengerjakan PR, bukan? Anak-anak pun bisa bebas bermain.


6. Koordinasikan dengan anggota keluarga supaya acara menginap tak mengganggu anggota keluarga yang lain.