YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

140118 Rakyat Merdeka

Prestasi di Sekolah Menurun & Mudah Marah

Rakyat Merdeka

Jum’at, 17 Januari 2014

Awas, Kelamaan Bermain Gadget Bikin Punggung Anak Bungkuk


Kebiasaan anak bermain gadget perlu diwaspadai, karena itu bisa mengganggu pertumbuhan tulang. Jika dibiarkan, bisa menyebabkan kebungkukan pada tulang, dan menurunkan prestasi anak di sekolah.


KEBUNGKUKAN terjadi karena anak fokus dengan layar gadget-nya dengan cara menunduk. Kebiasaan ini lama-kelamaan akan mempengaruhi struktur tulang secara keseluruhan.


Kepala Humas Ikatan Psikologi Klinis Kasandra Putranto menerangkan, efek samping dari gadget tidak bisa langsung dirasakan. Tapi di masa mendatang akan mempengaruhi kondisi kesehatan anak secara keseluruhan. Efek buruknya, mulai dari sisi fisik, mental sampai pada sosial anak.


“Secara fisik, efek membiasakan anak tergantung pada gadget, game portable ataupun televisi, tulang anak akan tumbuh dengan melengkung. Sehingga membuat posturnya menjadi bungkuk akibat terlalu lama berdiam diri,” warning Kasandra di acara yang bertema Ibu Juara Dukung Anak Bergerak Aktif di Jakarta, Selasa, (7/1).


Menurutnya, jika anak kurang gerak, tulang leher akan mengalami pergeseran juga. Hal ini terjadi pada anak yang fokus pada layar gadget-nya dengan cara menunduk.


Sedangkan dari sisi mental, lanjutnya, anak bisa mengalami penyakit yang berhubungan dengan tangan ataupun mudah marah akibat permainan yang dimainkan.


“Bila tidak diubah sedini mungkin, baik di rumah atau sekolah, sangat sulit mengatasi dampak ini bagi anak yang masih memiliki masa depan yang panjang,” tukas Kasandra.


Tak hanya itu, kemampuan interpersonal dengan orang lain, dan prestasi anak di sekolah juga ikut terganggu. Bahkan, kebiasaan anak bermain gadget tanpa ada pembatasan dan pendampingan bisa mempengaruhi prestasinya di sekolah. Hal itu dikarenakan perkembangan otak saat kecil tak terstimulasi lewat aktivitas fisik.


Sayangnya, banyak orangtua tak mengetahui bahwa aktivitas fisik saat kecil bisa mengembangkan fungsi otak anak.


“Ketidaktahuan inilah yang akhirnya membawa banyak orangtua membiarkan anak bermain gadget tanpa batasan waktu. Anak yang jarang beraktivitas fisik akan mempengaruhi prestasi mereka di sekolah nantinya,” jelasnya.


Untuk itu, ia meminta orangtua memperhatikan pertumbuhan anaknya dari kebiasaan bermain gadget. Di Inggris, misalnya, sudah ada klinik adiksi untuk mengatasi adiksi media sosial, pornografi ataupun gadget. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan dengan gadget bisa membawa problem secara klinis bagi pertumbuhan anak.


Oleh karenanya, para orantua harus membatasi anak-anak saat bermain smartphone atau perangkat gadget lainnya. Tujuannya, agar tak ada penyalahgunaan pada anak yang pada akhirnya mengganggu tumbuh kembangnya di masa mendatang.

 

Dr Ahmad Suryawan dari RSUD Dr Soetomo Surabaya menjelaskan, orangtua harus melakukan intervensi lingkungan demi kesehatan anak.

 

“Orangtua jangan lengah. Lakukan observasi on going pada anak, khususnya pada masa-masa penting, yakni di enam tahun pertama anak. Karena melebihi usia ini, bila ada masalah pada perkembangannya sulit untuk membantunya kembali ke jalur yang seharusnya,” ujar Ahmad.

 

Untuk itu, Ahmad menyarankan, orangtua selalu konsultasi dengan dokter ataupun psikolog anak untuk memantau perkembangan dan pertumbuhan anak.

 

“Pantau perkembangan hubungan sosial (kemampuan anak untuk melakukan interaksi sosial dan penilaian sosial), juga kematangan emosi (bagaimana seorang anak mampu memberikan respons emosi yang sesuai tuntutan lingkungan,” kata Ahmad.