YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

BESTLIFE, Desember 2013

PERANAN PSIKOLOGI JAKARTA SEHAT


Di antara sekelumit problematika dan hiruk pikuk permasalahan mental dan social anak-anak bangsa, Psikologi Jakarta Sehat (Psi JS) hadir. Meskipun baru meniti peranan di ranah Ibukota DKI Jakarta, Psi JS diharapkan mampu berkinerja baik dan menularkan perubahan positif ke seluruh wilayah Indonesia. Selaku Ketua Dra. A. Kasandra Putranto Psikolog mengatakan bahwa dirinya bersama tim akan membuat program pekerti anak dengan tujuan mengembalikan sifat dan karakter anak seturut usianya. Harapannya anak kembali memiliki pekerti yang ramah, sopan santun, patuh dan peduli. “Anak zaman sekarang sudah terkena Love Industry. Zaman dahulu anak-anak malu kalau tidak berprestasi, tapi anak sekarang malu kalau tidak punya pacar. Padahal, selangkah setelah cinta adalah seks, “ tuturnya.


Dalam skala yang lebih ringan kemerosotan moral remaja ditandai dengan semakin menipisnya sopan santun, rasa hormat kepada orang yang lebih tua, serta penghargaan kepada sesama. Melalui Psi JS, salah satu konsentrasi permasalahannya yaitu meningkatkan taraf hidup perempuan untuk memperkuat kaum perempuan itu sendiri. “Apabila ibu kuat, anak juga menjadi kuat dan mengerti prinsip-prinsip antikekerasan sehingga problematika social bisa berkurang, “harap Kasandra. Selain itu Psi JS berkonsentrasi pada penguatan anak, anti kekerasan anak dan perempuan, anak berkebutuhan khusus dan disabilitas, melingkupi hambatan fisik, psikologi dan social.


Dengan antusian Kasandra menjelaskan bahwa Psi JS merupakan suatu program untuk menyehatkan kota Jakarta dan masyarakatnya, sehat secara fisik, social, mental dan spiritual layaknya yang dicanangkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Program pengabdian Psikologi ini bermitra dengan 9 Fakultas Psikologi di 11 Puskesmas DKI Jakarta.


Kemitraan dan dukungan penuh dari berbagai pihak menambah gairah Psi JS untuk mengentaskan berbagai berbagai fenomena permasalahan psikososial masyarakat telah marak bermunculan, mulai dari perilaku menyimpang, pengabaian norma-norma moral dan etika, gangguan jiwa dari yang ringan hingga berat sampai pelanggaran hukum. Secara spesifik PsiJS menangani permasalahan seperti (1) Kuantitas, kualitas dan semakin muda usianya pelaku kejahatan / kriminalitas di Indonesia, termasuk korupsi, (2) Kekerasan dalam hubungan pacaran, rumah tangga, masyarakat, ‘bullying’, tawuran, dll, (3) Tingkat perceraian yang menimbulkan berbagai masalah psikodinamika perkembangan anak, (4) Indeks ketidaksehatan jiwa masyarakat yang ditandai dengan semakin banyaknya kasus depresi, bipolar, gangguan kepribadian, disosiatif dll, (5) Kasus pelanggaran norma agama dan norma sosial : adiksi narkoba, adiksi game, adiksi pornografi / aksi, (6) Kasus-kasus yang sarat muatan psikologis, macam konflik agama, suku, budaya dll, (7) Pengangguran dan rendahnya kompetensi masyarakat usia produktif, (8) Perilaku yang menyebabkan banjir dan sampah, (9) Perilaku pengemudi dan kemacetan, (10) Kemiskinan, (11) Pendidikan, (12) Kesehatan, (13) Lingkungan Hidup, (14) Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak dan kesetaraan gender, (15) Narkoba dan HIV Aids.


SEHATKAN MENTAL ANAK


Setiap orangtua pasti melakukan yang terbaik untuk buah hatinya, berharap generasi penerus keluarga tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan cerdas. Tidak hanya itu orangtua juga mengaharapkan anak-anaknya menjadi pribadi yang baik dan berguna untuk masyarakat disekitarnya. Seiring pertumbuhan dan perkembangan buah hati, orangtua wajib menjadi ‘sekolah’ pertama, tempat anak menimba ilmu sebelum bergumul dengan dunia luar rumahnya. Namun, semakin bertambah usia anak, peran orangtua bukan berarti berkurang melainkan semakin berat karena anak membutuhkan pengawasan yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.


Memasuki masa remaja, suasana hati anak bisa berubah dengan sangat cepat karena masa-masa ini penuh gejolak. Remaja sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena menganggap orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik diri mereka. Jadi, remaja mulai memperhatikan citra diri mereka untuk dipandang baik oleh orang lain, terutama lawan jenisnya. Suasana hati yang labil dan mudahnya merasakan kekecewaan akan berpotensi melemahkan mental anak dan membawa rasa frustasi hingga depresi. Oleh karena itu, selain member asupan yang bergizi untuk kesehatan fisiknya, orangtua wajib memupuk mental dan jiwa anak untuk terus sehat.


Berikut peran Anda sebagai orangtua dalam memupuk kesehatan mental dan jiwa anak.


1. PERAN MENDASAR, Anda sebaiknya menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak prenatal dan balita, membekali anak dengan dasar moral dan agama, dan membangun komunikasi yang baik dan efektif. Selain itu, Anda sebaiknya menjalin kerjasama yang baik dengan guru. Anak juga membutuhkan contoh yang baik dari orang-orang terdekatnya. Karena itu, Anda sudah semestinya menjadi tokoh panutan baik dalam perilaku dan perkataan.


2. MENDIDIK, Anda mesti mengenalkan dan menyadari perubahan fisik maupun psikis anak. Supaya anak kelak menjadi remaja yang mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab, Anda perlu membekali arti penting dari pendidikan dan ilmu pengetahuan yang anak dapatkan di dalam keluarga dan lingkungan.


3. MENDUKUNG, dalam menghadapi masa-masa peralihan menuju remaja atau dewasa, anak membutuhkan dukungan Anda, terutama saat mengalami kegagalan yang menurunkan semangatnya. Tanamkan keberanian dan rasa percaya diri kepada anak untuk menghadapi permasalahan dan memiliki semangat pantang menyerah.


4. MENJADI TEMAN, ciptakan dialog yang hangat dan akrab dengan tutur bahasa yang bersahabat. Anak akan merasa nyaman, aman dan terlindungi apabila Anda menjadi teman yang menyenangkan dan dapat dipercaya. Dengan demikian, setiap memiliki permasalahan, anak akan menjadikan Anda sebagai pihak yang pertama kali mengetahuinya. Hal ini sangat penting untuk mencegah anak mencari solusi di luar rumah, yang belum pasti akan memberikan dampak positif atau negative.

 

5. MENJADI KONSELOR, Anda wajib mendampingi anak dalam masa-masa sulitnya, terutama dalam mengambil keputusan. Berikanlah gambaran dan pertimbangan nilai positif dan negative sehingga anak mampu belajar menentukan keputusan. Anda memerlukan kesabaran dan jiwa besar untuk menghadapi anak yang cenderung keras kepala dan sulit menerima pendapat orang lain. Kembali lagi, Anda sepatutnya memainkan peran mendasar sebagai orangtua.