YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

BellaDona the Wedding

Batal Menikah, Bencana atau Berkah?
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Berbagai analisa Psikologi wajib didasarkan pada studi perilaku terhadap perilaku yang dimaksud secara valid dan empirik. Demikian pula dengan fenomena batal menikah, analisa terhadap perilaku individu yang memutuskan batal menikah dan terhadap perilaku individu yang pernikahannya dibatalkan. Masalah utama yang dihadapi adalah studi terhadap hal ini masih sangat sedikit sekali, terutama di Indonesia.
- Biasanya, apa penyebab batal menikah? Apa alasannya? Untuk pemutusan satu pihak- Apa yang di rasakan oleh pihak “korban”?

Faktor penyebab batal menikah seringkali dipersepsikan berbeda oleh ke dua pihak individu yang membatalkan dan dibatalkan, termasuk keluarganya. Umumnya keluarga Indonesia cenderung mempersepsikan pembatalan pernikahan sebagai aib keluarga, baik untuk yang membatalkan maupun untuk yang dibatalkan. Selanjutnya mereka akan berusaha memberikan rasionalisasi alasan pembatalan yang cenderung membebaskan diri sebagai pihak yang dianggap bersalah dan melemparkannya kepada pihak lain.
Beberapa alasan yang kerap muncul dalam pembatasan pernikahan adalah tekanan keluarga, perubahan persepsi terhadap pasangan, dan atribut salah satu calon pengantin yang tidak bisa diterima

Saya tidak bisa menyebutkan pihak korban, karena dalam kasus pembatalan pernikahan, korban bisa jadi lebih dari satu, calon pengantin pria, calon pengantin perempuan, keluarga calon pengantin pria, keluarga calon pengantin perempuan atau orang lain lagi. Istilah korban disini menjadi tidak tepat jika langsung diasumsikan bahwa korban pastilah berasal dari pihak yang dibatalkan. bisa jadi korban berasal dari pihak yang membatalkan. sebutkanlah misalnya yang membatalkan adalah dari pihak calon pengantin perempuan, karena ternyata tidak bisa menerima salah satu atribut calon pengantin pria yang baru diketahui mendekati hari H. Apakah korban sudah pasti hanya sang pengantin pria dan keluarganya ? tidak. bisa jadi sang calon pengantin perempuan juga menjadi korban dari keputusan keluarga tersebut.
- Trauma apa yang di rasakan oleh “korban”?

Bentuk trauma yang dialami tentu tidak sama pada setiap orang karena selain tergantung pada faktor pembatalan pernikahan itu sendiri, masih banyak faktor lain yang mempengaruhi antara lain kualitas mental dan intervensi yang dilakukan. Semakin rendah kualitas mental seseorang yang terlibat dalam pembatalan pernikahan tersebut dan semakin minim intervensi yang dilakukan semakin tinggi bentuk trauma yang mungkin terjadi. Sebuah kasus pernah ditemukan individu yang paling mengalami trauma adalah justru adik calon pengantin perempuan yang ternyata tidak bisa menerima kenyataan dan akhirnya menjadi depresi karena pembatalan pernikahan kakaknya.
- Adakah terapi untuk trauma dari kejadian tersebut?

Berbagai jenis terapi telah dikembangkan dalam ilmu Psikologi, yang tentu saja harus selalu teruji validitas dan efektifitas nya secara ilmiah, oleh karena itu sangat penting bagi para psikolog untuk melakukan asesmen lengkap atas individu dan keseluruhan kasus sebelum bisa menentukan jenis terapi yang tepat.
- Adakah istilah untuk trauma tersebut?

tidak

- Untuk pihak pemutus, adakah gangguan siksis pula?

sudah saya sebutkan di atas

- Jika keputusan bersama biasanya apa sebabnya?

sudah disebutkan di atas : tekanan keluarga, perubahan persepsi terhadap pasangan, dan atribut salah satu calon pengantin yang tidak bisa diterima,

- Pernah memiliki klien yang batal menikah? Seperti apa ceritanya?

mungkin sekitar 4 % dari keseluruhan kasus yang saya tangani, baik sebagai masalah utama ataupun masalah sekunder. Yang dimaksud sebagai masalah utama adalah jika gangguan psikologis yang muncul saat pertama kali datang disebabkan langsung karena pembatalan pernikahan. Yang dimaksud sebagai masalah sekunder jika gangguan psikologis yang muncul saat datang disebabkan secara tidak langsung karena pembatalan pernikahan sebagai riwayat masa lalu dan hanya sebagai salah satu penyebab gangguan.

- Apa yang harus dilakukakan jika batal menikah?

Intervensi segera perlu dilakukan dengan bertemu psikolog yang melibatkan asesmen, pendampingan dan terapi.

- Bagaimana menanggapi semua omongan dari pihak luar?

Kualitas mental seseorang sangat memegang peranan penting dalam hal ini. Sudah disebutkan di atas bahwa kualitas mental yang relatif lebih rendah akan mengakibatkan kondisi trauma yang lebih besar. Sikap hidup dan pola pikir menjadi bagian dari kualitas mental dalam melanjutkan kehidupan. Proses pendampingan psikologi menjadi sangat penting untuk mengawasi pola pikir, pola emosi dan pola perilaku yang ditampilkan. Ikhlas dan tawakal seringkali digunakan dalam proses pendampingan, namun tentu saja tidak bisa semudah itu dikatakan untuk dijalankan, harus melalui proses intervensi psikologis yang prosesnya sekali lagi tergantung kualitas mental. Ada kalanya perlu melibatkan bantuan psikiater untuk penanganan medisnya.
- Ada beberapa pihak beranggapan batal menikah akan lama lagi mendapatkan jodohnya, benarkah?
tidak
- Jika kita sebagai pihak pemutus, apakah tindakan pemutus itu salah? Ego atau Takdir?
tergantung situasinya, tidak setiap kasus pemutus bisa ditentukan bersalah dalam hal ini
- Adakah pola patologis (abnormal) pada diri pemutus?
pola patologis bisa jadi pada ke dua belah pihak,, calon pengantin maupun keluarganya yang menjadi alasan pembatalan pernikahan.
- Bagaimana cara move on dari batal menikah?
serupa dengan jawaban di atas soal menghadapi omongan orang
- Batal menikah sebenarnya berkah atau bencana?
tergantung sudut pandang individu yang mengalami. Yang jelas dengan memiliki sudut pandang sebagai berkah, seseorang akan lebih mampu menjalani kehidupan lebih baik daripada yang memiliki sudut pandang sebagai bencana
- Berkah seperti apa? Bencana seperti apa?
Artinya manusia berencana, Tuhan memutuskan. Bisa jadi pembatalan pernikahan ini adalah untuk mendapatkan yang lebih baik.
Semakin rendah kualitas mental seseorang semakin tinggi kemungkinan dan kreativitas mereka dalam menterjemahkan kejadian pembatalan pernikahan sebagai bencana. Dan selanjutnya hidup mereka cenderung berhenti, karena terpaku pada pikiran bencana, tidak mampu berpikir keluar dari lingkaran bencana yang dibuatnya sendiri, semakin aktif kreatif dalam menterjemahkan makna terkait pembatalan pernikahan dan akhirnya tenggelam dalam pusaran masalah yang diciptakannya sendiri
- Bisakah pihak “korban” menuntut ganti rugi?
tidak, kecuali jika ada unsur pidana pemalsuan, penipuan atau pemerasan atau pelanggaran hukum lain sesuai ketentuan Undang-Undang.
- Adalah hukumannya untuk “pelaku”?
KUHP (Kitab Undang-Undang hukum Pidana) Indonesia tidak mengatur soal pembatalan pernikahan sebagai sebuah pelanggaran, kecuali jika terbukti ada unsur pidana pemalsuan, penipuan, pemerasan atau pelanggaran lain.
- Jika telah terjadi, apa yang harus kita perbuat saat menjadi “korban”?