YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

C & R 03-09/09/2014

PERNIKAHAN DINI BERUJUNG DI PENGADILAN

 

PERLU SERTIFIKAT SIAP NIKAH

Oleh Dra. A. Kasandra Putranto, Psikolog

 

Dari zaman bapak dan ibu kita dulu, menikah di usia muda sebenarnya bukan hal yang aneh. Yang perlu di ingat perkembangan fisik memang tak berbanding lurus dengan kematangan mental. Pertanyaannya, mengapa orang-orang tua dulu meski menikah muda, masih bisa mempertahankan pernikahan hingga maut menjemput? artinya mereka dipisahkan oleh kematian dan rata-rata bukan karena perceraian. Sementara, pasangan muda sekarang justru kebanyakan tidak?

 

Secara kasat mata perbedaan itu bisa dilihat dari kondisi. Dulu dan sekarang berbeda. Bayangkan saja, sekarang banyak mall, kafe, televisi, handphone, dan keasyikan berceloteh di media sosial, belum lagi hal-hal yang bisa mempengaruhi pemikiran seseorang. Sekarang mau ngerumpi dan terbuka gampang sekali. Zaman dulu saja, mau kirim burung dara sebagai pembawa pesan belum tentu sampai. Entah burungnya jatuh di udara atau ditembak.

 

Jadi ini bukan soal umur. Ada juga faktor lain yaitu perkembangan hormonal anak-anak sekarang tak sama dengan zaman dulu. Secara fisik dan hormonal anak-anak sekarang lebih gampang emosional dan berekspresi. Beberapa waktu lalu saya sempat berdiskusi dengan teman-teman di Komnas Perempuan. Sudah saatnya kita perlu menggalakkan konseling pranikah dan pascamenikah. Bahkan, saya dan teman-teman berpikir agar ada sertifikat menikah yang memberikan legitimasi seseorang perempuan misalnya memang siap untuk membina rumah tangga.

 

Menikah itu bukan sekedar bisa mengahasilkan keturunan dengan hamil dan lain sebagainya. Tetapi baik pihak calon istri atau calon suami harus tahu batasan dan komitmen mereka dalam menjalankan rumah tangga. Di agama Nasrani ada kalau tak salah semacam konseling sebelum menikah. Di islam lebih baik lagi menjadi tanggung jawab, bukan saja pihak pemuka agama untuk memberikan penjelasan tentang makna sakral rumah tangga. Tetapi mestinya pihak Kantor Urusan Agama atau lembaga tertentu.