YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

KOMPAS, 5 Maret 2015

Dra. A. Kasandra Putranto mewakili Asosiasi Psikologi Forensik tentang pentingnya penanganan kekerasan seksual yang berpihak pada anak dalam rangka Gerakan Nasional Anti Kekerasan Seksual Republik Indonesia.

 

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

JAKARTA, KOMPAS – Hariyanti, pengajar Kelompok bermain Saint Monica Jakarta School, didakwa melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya, L (3,5). Dalam persidangan perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Rabu (4/3), dia didakwa pasal berlapis, yaitu Pasaal 80 dan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hariyanti akan mengajukan eksepsi. Di hadapan majelis hakim yang dipimpin Ifa Sudewi, Jaksa Penuntut Umum Erni Pramoti mengatakan, pada pemeriksaan korban L ditemukan adanya kemerahan di lubang pelepasan akibat bekas benda tumpul. Terdakwa juga melakukan tindakan kekejaman atau tindakan kekerasan terhadap anak.

 

“Tuntutan maksimal masing-masing pasal adalah 5 dan 15 tahun penjara,” ujar Erni.

 

Kasus ini bermula saat L mengaku mendapatkan pelecehan dari seorang guru di sekolahnya pada tanggal 30 April 2014. Korban mengaku dilecehkan di sebuah ruang ekstrakurikuler saat mengikuti kegiatan tari di sekolah. Ibu korban melaporkan Hariyanti ke kepolisian atas kejadian itu.

 

Kuasa hukum terdakwa, Reynold Thonak, berpendapat, dakwaan mengada-ada. Dari investigasi internal, lokasi kejadian yang dituduhkan itu ramai.

 

Pada hari itu, di ruang ekstrakurikuler ada belasan anak lainnya. Korban juga hanya berada sejam lebih di sekolah. Jadi bagaimana mungkin pelecehan dilakukan salah seorang guru di sekolah,” kata Reynold.

 

Dengan demikian, tambah Reynold, yang juga kuasa hukum yayasan sekolah itu, tindakan pelecehan tidak mungkin dilakukan di dalam sekolah. Tidak tertutup kemungkinan pelecehan terjadi di luar sekolah dan selepas waktu kegiatan sekolah.

 

Senada dengan Reynold, resepsionis Kelompok Bermain Saint Monica Jakarta School Emi Dwi Wonda menuturkan, pada hari kejadian yang dituduhkan, dirinya yang menuntun anak itu masuk ke dalam kelas. Saat itu, ada dua guru di dalam kelas dan belasan anak lainnya.

 

Selain itu, kata Emi, dirinya juga melihat L keluar kelas untuk pulang. “Saat itu, L tetap ceria dan seperti tidak terjadi apa-apa. Saya heran sekali kalau teman saya tiba-tiba didakwa melakukan pelecehan,” ujarnya.

 

Kian bertambah

Dalam diskusi bertema kekerasan seksual pada anak yang diadakan Rifka Annisa, terungkap kasus kejahatan belakangan ini kian mengerikan.

 

Dewan pengurus Rifka Annisa Sri Kusyuniati mengatakan, kekerasan terhadap anak terus meningkat dari sisi jumlah kasus, usia korban dan pelaku, jenis kekerasan yang dilakukan, serta kualitas kekerasan terhadap anak. “Sementara belum ada upaya yang lebih sistematis untuk mencegah kekerasan seksual. Payung hukum sudah tidak memadai lagi untuk mengakomodasi kejahatan yang terjadi hari ini, katanya, Rabu.

 

Psikolog klinis A. Kasandra Putranto mengatakan, penegakan hukum juga menjadi kunci pencegahan meluasnya kekerasan seksual pada anak. “Saya berharap pemerintah mau memberlakukan pencatatan sidik jari semua pelaku kekerasan seksual untuk mengantisipasi terulangnya kejahatan serupa,” katanya.

 

Di sisi lain, upaya pendampingan terhadap korban kekerasan seksual anak ini juga harus terus diupayakan agar korban tidak menjadi pelaku di kelak kemudian hari.

 

Hal senada disampaikan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Titik Haryati. Sepanjang tahun 2014 ada ratusan kasus pelecehan seksual yang menimpa anak dan dilaporkan ke KPAI.

 

“Kemungkinan kasus pelecehan seksual yang menimpa anak lebih banyak dari kasus yang tercatat di KPAI. Sebab, masih ada orang yang tidak melaporkan kekerasan ini dengan berbagai sebab,” kata Titik. (ART/JAL)