YouTube Gallery

Youtube Gallery: Video List and Theme not selected.

Join Our Facebook

KAWANKU no. 197 - 2015

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

A Beautiful Lie

Pernahkah kita melakukan salah satu dari hal-hal ini: pakai filter di instagram, check in di tempat keren padahal kita Cuma lewat atau foto dengan tagar #OOTD padahal bukan baju sendiri? Kalau kita pernah melakukan satu atau ketiga hal ini, artinya kita pernah melakukan kebohongan di media sosial.

“Aku pernah, sih, melakukan kebohongan kecil tapi sebenarnya enggak sengaja. Aku memang mau nongkrong di Starbucks dan begitu sampai aku langsung check in. Tapi setelah antri beli minuman, tempatnya penuh dan enggak ada tempat duduk. Jadi, ya udah aku enggak jadi nongkrong,” ucap Irni dari SMAN 3 Makasar.

Berbohong di sosmed termasuk hal yang banyak dilaukan oleh remaja, lho. Terbukti dengan hasil survey yang ada di halaman 34-37. Berbohong ini terjadi karena sebagian remaja kita masih dalam proses pertumbuhan dan mencari jati diri. Kadang kita sering merasa enggak pede dengan apa yang kita miliki. Menurut Dra. Kasandra Putranto, dari Kasandra & Associates, “Remaja berbohong karena takut enggak diterima, enggak pede dan juga pengin tampil.”

 

Penampilan Itu Penting

Penampilan adalah hal yang paling sering membuat remaja enggak pede. Jadi jangan heran kalau kita sering banget menggunakan filter saat meng-upload foto di Twitter, Instagram atau sosmed lainya. Apalagi sekarang semakin banyak aplikasi di smartphone yang sudah dilengkapi dengan filter yang keren-keren. “Buat aku, sih, ada kepuasan tersendiri kalau upload fotonya bagus. Fotonya kan jadi lebih enak dilihat. Pakai filter juga membuat fotonya lebih jernih. Kadang aku juga pakai filter yang nyeni seperti black and white, vintage, atau efek mirror tapi aku enggak mau yang terlalu berlebihan juga sampai yang mukanya bening banget,” ucap Evelyn dari SMAN 85 Jakarta.

Sementara Irni lebih suka menggunakan foto yang natural walaupun dia sendiri melihat beberapa temannya sangat mengandalkan filter. “Aku enggak terlalu suka menggunakan filter di instagram, aku suka yang natural aja. Karena aku enggak mau dibilang ‘muka editan’. Sekarang memang banyak yang kayak gitu. Aku punya teman yang sering upload foto pakai filter yang banyak, sampai-sampai muka aslinya beda dengan yang ada di foto. Semuanya diedit mulai dari warna kulit, enggak jerawatan, bola matanya lebih bulat dan bibirnya jadi merah banget,” ucapnya. Menurut Irni, alasan orang terlalu sering menggunakan filter instagram sampai wajahnya berbeda dari aslinya karena dia ingin dipuji atau tebar pesona.

 

Image adalah Segalanya

Kondisi ini juga diperburuk dengan keadaan sekarang yang segalanya banyak ditentukan oleh image atau penampilan luar. Lihat aja begitu banyak acara di TV yang menampilkan model atau seleb dengan penampilan yang sempurna from head to toe. Belum lagi fashion blogger, Instagram dan Twitter yang membuat orang begitu cepat jadi ‘seleb’ hanya karena penampilannya.

“Media selalu menuntut kita tampil cantik. Penampilan dan wajah jadi patokan atau ukuran sebuah kesuksesan,” ucap Kasandra. Karena persepsi dari TV dan media massa juga akhirnya membuat remaja yakin kalau modal untuk sukses adalah penampilan yang keren. Jadi, deh, mereka berlomba-lomba untuk tampil sekeren mungkin di media sosial.

 

Pengaruh Lingkungan Luar

Enggak bisa diingkari kalau orang tua yang sibuk bekerja membuat remaja kurang perhatian. Nah, lewat media sosial mereka mencari perhatian. Idealnya, orang tua memiliki waktu yang cukup untuk mengajarkan banyak nilai-nilai soal kesuksesan. “Seharusnya orang tua mengajarkan anak untuk menerima diri apa adanya,” ucap Kasandra.

Lingkungan pergaulan juga sangat berpengaruh, lho. Kalau kita sejak kecil terbiasa melihat teman-teman suka mem-bully orang karena penampilannya, misalnya diejek karena hidungnya pesek, kulitnya hitam atau tubuh yang gemuk, maka di bawah sadar kita akan terbentuk standar yang tinggi soal penampilan. Dan ini juga yang membuat kita jadi berbohong soal penampilan kita di sosmed.

Pengaruh lingkungan lainnya adalah globalisasi dan modernisasi. Tingkat kesuksesan orang sering kali diukur dari hal-hal yang bersifat materi. Seperti merek baju apa yang kita pakai, tempat hangout mana yang sudah didatangi, negara mana saja yang sudah dikunjungi dan banyak lagi. Ini akan menjadi tekanan yang sangat besar buat remaja. Kita jadi malu kalau enggak datang ke satu tempat yang lagi nge-trend. Kita enggak pede kalau enggak memakai baju, tas atau aksesori merek tertentu. Ini juga yang pada akhirnya mendorong remaja untuk berbohong, seperti check in di tempat gaul atau menggunakan baju pinjaman atau baju yang kita coba di satu butik lalu difoto dengan hashtag #OOTD.

 

What Should We Do?

1. Kurangi Aktivitas di Sosmed

Sebenarnya ada alasan kenapa ada batasan umur untuk Twitter dan Facebook. Karena kalau umur kita masih di bawah 17 tahun, kita belum siap dan kuat secara mental. Di dunia nyata aja kalau dicela bisa bikin kita nangis, apalagi kalau ada ratusan bahkan ribuan orang yang mencela di dunia maya. Bahkan di usia lebih dari 17 tahun aja kadang mental seseorang sering enggak kuat. Jadi sebaiknya mulai sekarang kurangi aktivitas di media sosial. Kalau perlu, ada satu hari kita enggak buka sosmed.

2. Cari Role Model

Kita enggak bisa sepenuhnya menyalahkan kesibukan orang tua kalau mereka enggak bisa menghabiskan banyak waktu bersama kita. Sebagai gantinya, kita bisa membekali diri dengan rajin membaca buku-buku pengembangan diri, seperti membaca kisah orang sukses yang enggak mengandalkan penampilan. Dengan cara ini kita bisa menambah rasa pede dan secara perlahan mengurangi kebohongan-kebohongan kecil kita.

3. Gaul dengan Teman yang Positif

Kalau kira punya teman yang suka mem-bully, sering menilai orang hanya berdasarkan penampilan, maka kita akan cenderung menjadi orang seperti itu juga. Cari, deh, teman-teman positif yang mau menilai orang dari karakternya bukan dari penampilan semata.

4. Punya Keahlian

Penting banget kita punya keahlian khusus, bisa itu bermusik, olahraga atau pun kegiatan lainnya. Dengan punya keahlian, kita bisa punya modal untuk pede dan eksis di lingkungan pergaulan kita maupun di sosmed.

5. Belajar Menerima Diri apa Adanya

Dari pada membanyangkan standar ideal yang muluk, lebih baik kita mulai focus untuk menerima diri apa adanya. Cari apa keunikan dari karakter atau penampilan kita, kita bisa menonjolkannya di situ. Tanya pada diri sendiri, lebih baik kita cantik tapi copycat dengan sepuluh cewek yang lain, atau terlihat cantik dan unik dengan versi kita sendiri?